Archive for December, 2006


Doa Supaya Jadi Miskin?

Salah Faham Terhadap Do’a Nabi

Abdul Hakim bin Amir Abdat

 

Di antara sekian banyak do’a-do’a
yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada umatnya adalah
do’a di bawah ini :

 

اللّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِيناً، وَأَمِيْتِنَي مِسْكِيناً،
وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ

“Ertinya : Ya Allah ! Hidupkanlah
aku dalam keadaan MISKIN, dan matikanlah aku dalam keadaan MISKIN,
dan kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) di dalam rombongan orang-orang MISKIN”.

 

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam
Ibnu Majah No. 4126 dan lain-lain. Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini darjatnya
: HASAN. (Lihat perbahasannya di dalam kitab beliau : Irwaul Ghalil No.
861 dan Silsilah Shahihah No. 308)

 

Setelah kita mengetahui bahwa
hadits ini sahih datangnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka
sekarang perlu kita mengetahui apakah maksud perkataan MISKIN dalam lafaz
do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Yang sangat saya kesalkan
di antara saudara-saudara kita (tanpa memeriksa lagi keterangan Ulama-ulama
kita tentang syarah hadits ini khususnya tentang gharibul hadits) telah
memahami bahawa MISKIN di sini dalam erti yang biasa kita kenal iaitu : "Orang-orang
yang tidak cukup di dalam hidupnya atau orang-orang yang kekurangan harta"
.

 

Dengan erti yang demikian maka
timbullah salah faham di kalangan umat terhadap do’a Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam
di atas, akibatnya :

 

1. Do’a ini tidak ada seorang muslimin pun
yang berani mengamalkannya, atau paling tidak sangat jarang sekali, lantaran
menurut tabi’atnya manusia itu tidak mahu dengan sengaja menjadi miskin.

 

2. Akan timbul pertanyaan : Mengapa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh umatnya menjadi miskin
? Bukankah di dalam Islam ada hukum zakat yang justeru salah satu faedahnya
ialah untuk memerangi kemiskinan ? Dapatkah hukum zakat itu terlaksana kalau
kita semua menjadi miskin ? Dapatkah kita berjuang dengan harta-harta kita
sebagaimana yang Allah Subhanahu wa ta’ala perintahkan kalau kita hidup dalam
kemiskinan ? Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala daripada berburuk
sangka kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

 

3. Ia menjadi jalan bagi musuh-musuh Islam
untuk mengatakan : Bahawa Islam adalah musuh kekayaan !?.

 

Sedangkan yang benar MISKIN
di dalam do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini ialah : "Orang
yang Khusyu dan Mutawaadli (orang yang tunduk dan merendahkan
diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala)"
. Sebagaimana hal ini telah
diterangkan oleh Ulama-ulama kita :

 

1. Imam Ibnul Atsir di kitabnya An-Nihaayah
fi Gharibil Hadits (2/385) mengatakan : "Ya Allah hidupkanlah aku dalam
keadaan Miskin ….. Yang dikehendaki dengannya (dengan miskin tersebut)
ialah : Tawadhu’ dan Khusyu’, dan supaya tidak menjadi
orang-orang yang sombong dan takabur".

 

2. Di kitab Qamus Lisanul Arab (2/176) oleh
Ibnu Mandzur diterangkan asal erti Miskin di dalam lughah/bahasa ialah =
Al-Khaadi’ (orang yang tunduk), dan asal erti Faqir ialah : Orang
yang memerlukan. Lantaran itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a
: Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan Miskin ….. Yang dikehendaki
ialah : Tawadhu’ dan Khusyu’, dan supaya tidak menjadi orang-orang
yang sombong dan takabur. Ertinya : Aku merendahkan diriku kepada Mu wahai
Rabb dalam keadaan berhina diri, tidak dengan sombong
. Dan bukanlah yang
dikehendaki dengan Miskin di sini adalah Faqir yang memerlukan (harta).

 

 

3. Imam Baihaqi mengatakan : "Menurutku
bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah meminta keadaan miskin
yang maknanya kekurangan tetapi beliau meminta miskin yang maknanya tunduk dan
merendahkan diri (Khusyu’ dan Tawadhu’). (Lihat kitab : Sunatul
Kubra al-Baihaqi

7/12-13

dan Taklhisul-Habir 3/109 No. 1415 oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar).

 

4. Demikian juga maknanya telah diterangkan
oleh Hujjatul Islam al-Imam Ghazali di kitabnya yang mashur Al-Ihya’ 4/193.
(baca juga syarah Ihya’ 9/272 oleh Imam Az-Zubaidy)

 

 

5. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan :
"Hidupkanlah aku dalam keadaan Khusyu’ dan Tawadhu’".
(Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 18/382 bahagian kitab hadits). Beliau juga
mengatakan (hal.326) : "…. bukanlah yang dikehendaki dengan miskin (di dalam
hadits ini) tidak mempunyai harta …"

 

6. Imam Qutaibi juga mengatakan Khusyu’
dan Tawadhu’ (Ta’liq Sunan Ibnu Majah No. 4126 oleh Ustadz Muhammad Fuad
Abdul Baqi).
Kemudian periksalah kitab-kitab di bawah ini :

 

 

1. Tuhfatul Ahwadzi Syarah Tirmidzi

7/19-20

No. 2457 oleh Imam
Al-Mubaarakfuri.

2. Faidhul Qadir Syarah Jami’us Shaghir
2/102 oleh Imam Manawi.

3. Al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab 6/141-142
oleh Imam Nawawi.

4. Shahih Jami’us Shaghir No. 1271 oleh Al-Albani.

5. Maqaashidul Hasanah No. 166 oleh Imam
As-Sakhawi.

 

Setelah kita mengetahui keterangan
ulama-ulama kita tentang maksud miskin dalam do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam
di atas, baik secara lughah/bahasa mahupun maknanya, maka hadits
tersebut ertinya menjadi :

"Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan khusyu’ dan tawadhu’, dan
matikanlah aku dalam keadaan khusyu’ dan tawadhu’, dan kumpulkanlah aku (pada
hari kiamat) dalam rombongan orang-orang yang khusyu’ dan tawadhu"
.

 

Rasanya kurang lengkap kalau di
dalam risalah ini (sebagai penguat keterangan di atas) saya tidak menerangkan
dua masalah yang perlu diketahui oleh saudara-saudara kaum muslimin.

 

Pertama.
Bahawa Islam adalah agama yang memerangi atau membanterasr kefakiran dan
kemiskinan di kalangan masyarakat. Hal ini dengan jelas dapat kita ketahui :

 

1. Di dalam Islam tedapat hukum zakat (satu
peraturan ekonomi yang tidak terdapat pada agama-agama yang lain kecuali
Islam). Sedangkan yang berhak menerima bahagian zakat di antaranya orang-orang
yang fakir dan miskin (At-Taubah : 60). Andai kata zakat ini dijalankan sesuai
dengan apa yang Allah Subhanahu wa ta’ala perintahkan dan menurut sunnah Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam
, nescaya tidak sedikit mereka yang sebelumnya hidup dalam
kemiskinan -setelah menerima bahagian zakatnya- akan berubah kehidupannya
bahkan tidak mustahil kalau di kemudian hari merekalah yang akan mengeluarkan
zakat.
Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman : "Agar supaya harta itu
tidak beredar di antara orang-orang yang kaya saja daripada kamu"
.
(Al-Hasyr : 7)

 

2. Islam memerintahkan memerhatikan keluarga
(ahli waris) yang akan ditinggalkan, supaya mereka jangan sampai hidup melarat
yang menadahkan tangan kepada manusia. Kita perhatikan sabda Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam
: "Sesungguhnya engkau tinggalkan ahli warismu
dalam keadaan kaya (cukup) lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka hidup
melarat/miskin yang menadahkan tangan-tangan mereka kepada manusia
(meminta-minta)"
. (Hadits Riwayat Bukhari 3/186 dan Muslim 5/71 dan
lain-lain)

 

 

3. Bahkan Islam mencela kalau ada seorang
mukmin yang hidup dalam keadaan cukup sedangkan tetangganya kelaparan dan dia
tidak membantunya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
"Bukanlah orang yang mukmin itu yang (hidup) kenyang, sedangkan
tetangganya (hidup) lapar di sebelahnya"
. (Hadits Shahih Riwayat
Bukhari di kitabnya Adabul Mufrad, dan lain-lain). Maksudnya : Tidaklah
sempurna keimanan seorang muslim itu apabila ia makan dengan kenyang sedangkan
tetangganya di sebelahnya kelaparan (kalau hal ini dia ketahui dan dia tidak
membantunya dengan memberi makan kepada tetangganya).

4. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala daripada hidup dalam
kefakiran dan kelaparan.

"Ertinya : Dari Aisyah RA (dia
berkata) : Bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a
dengan do’a-doa ini :

اللهم! فإني أعوذ بك من فتنة النار، وعذاب النار، وفتنة
القبر، وعذاب القبر، ومن شر فتنة الغنى، ومن شر فتنة الفقر

 

Ya Allah, sesungguh-nya aku
memohon perlindungan kepada-Mu daripada fitnah neraka dan azab neraka, dan daripada
fitnah kubur dan azab kubur, dan daripada kejahatan fitnah kekayaan, dan daripada
kejahatan fitnah kefakiran
….” (Shahih Riwayat Bukhari 7/159, 161. Muslim
8/75 dan ini lafadznya, Abu Dawud No. 1543, Ibnu Majah No. 3838, Ahmad 6/57,
207. Tirmidzi, Nasa’i, Hakim 1/541 dan Baihaqi 7/12).

 

Kedua : Hadits Abi Hurairah RA :

"Ertinya : Bahwasanya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a :

اللهمَّ إنِّي أعوذ بك من الفقر والقلة والذلة، وأعوذ بك من أن
أظلِم أو أُظلم

 

Ya Allah, sesungguhnya aku
memohon perlindungan kepada-Mu daripada kefakiran, dan aku memohon perlindungan
kepada-Mu daripada kekurangan dan kehinaan, dan aku memohon perlindungan
kepada-Mu daripada menzalimi atau dizalimi
”. (Shahih Riwayat Abu Dawud No.
1544, Ahmad 3/305,325. Nasa’i, Ibnu Hibban No. 2443. Baihaqi 7/12).

 

اللهم إنِّي أعوذ بك من الجوع فإِنه بئس الضجيع، وأعوذ بك من
الخيانة فإِنها بئست البطانة

"Ertinya : “Ya Allah, sesungguhnya
aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kelaparan, karena sesungguhnya
kelaparan itu seburuk-buruk teman berbaring, dan aku memohon perlindungan
kepada-Mu dari khianat, karena sesungguhnya khianat itu seburuk-buruk teman
”.
(Shahih Riwayat Abu Dawud No. 1547. Nasa’i dan Ibnu Majah No. 354).

 

Ketiga : Hadits Abi Bakrah Nufai’
bin Haarits : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengucapkan do’a ini di akhir shalat:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ
مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ

"Ertinya : “Ya Allah,
sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran
dan azab kubur
”. (Hadits Shahih atas syarat Muslim dikeluarkan oleh Imam
Ahmad bin Haنbal 5/36,39 & 44 dan Nasa’i).

 

Keempat : Hadits Anas bin Malik :
Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan dalam
do’anya :

وأعوذ بك من الفقر والكفر

"Ertinya : “….Dan aku
memohon perlindungan kepada-Mu dari kefakiran/miskin dan kekafiran
……”.
(Hadits Shahih atas syarat Bukhari, dikeluarkan oleh Imam Hakim 1/530. dan Imam
Ibnu Hibban No. 2446).

 

Kedua.
Islam tidak menjadi musuh kekayaan asalkan si kaya seorang yang bertaqwa.
Bahkan dengan kekayaan itu seorang dapat memperolehi ganjaran yang besar dan
darjat yang tinggi seperti berjihad dengan harta sebagaimana yang Allah
perintahkan, menunaikan zakat harta, infaq dan shadaqah, ibadah haji,
mendirikan masjid-masjid, pesantren dan sekolah-sekolah Islam, membantu anak
yatim dan perempuan-perempuan janda dan lain-lain yang memerlukankan harta dan
kekayaan.

 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam
pernah mendo’akan Anas bin Malik :

"Ertinya : Ya Allah !
Banyakkanlah hartanya dan anak-anaknya serta berikanlah keberkatan apa yang
Engkau telah berikan kepadanya". (Hadits Riwayat Bukhari 7/152,
154,161-162. dan lain-lain).

 

Hadits ini mengandung beberapa
faedah :

1. Bahawa harta itu adalah salah satu nikmat
Allah Subhanahu wa ta’ala.

 

2. Bahawa banyak harta itu tidak tercela
atau mengurangi ibadahnya, asalkan dia memang seorang yang bertaqwa. Bahkan
hadits ini kita dapat mengetahui bahawa banyak harta itu merupakan suatu
kebaikan dan nikmat dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Kerana tidak mungkin Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam
mendo’akan kecelakaan kepada salah seorang shahabat dan
pembantunya seperti Anas bin Malik kalau tidak menjadi kebaikan baginya !.

 

 

3. Boleh mendo’akan seseorang supaya banyak
hartanya dengan penuh keberkatan.

 

4. Dari hadits ini kita mengetahui bahwa
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai mempunyai anak banyak.

 

 

5. Juga hadits ini menerangkan tentang
keutamaan Anas bin Malik yang telah terbukti dalam sejarah -berkat do’a Nabi-
tidak seorangpun dari shahabat Anshar yang paling banyak harta dan anak selain
dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu.

 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam
pernah bersabda kepada shahabatnya Hakim bin Hizaam : "Wahai Hakim! Sesungguhnya harta ini
indah (dan) manis, maka barang siapa yang mengambilnya dengan jiwa yang baik,
nescaya mendapat keberkatan, dan barang siapa yang mengambilnya dengan jiwa
yang tamak, nescaya tidak mendapat keberkatan, dan ia seperti orang yang makan
tetapi tidak pernah kenyang, dan tangan yang di atas (yang memberi) lebih baik
dari tangan yang di bawah (yang meminta)"
.
(Hadits Riwayat Bukhari 7/176 dan Muslim 3/94)

lawatan di hopsital n taksub mufti Perlis

Assalamualaikum Wbt

Alhamdulillah, semalam program melawat
hospital telah dijayakan. Peserta yang terlibat hampir 40 orang.
Terdiri daripada pelajar UIA, matrik UIA, UM, UKM, dan UPM. Inilah kali
pertama program seumpama ini dianjurkan dan ini kali pertama saya
menyertainya. Tidaklah sesukar mana. Antara matlamat program ziarah
pesakit di HKL ini ialah untuk menyampaikan kepada pesakit tentang
cara-cara beribadah seperti bersuci dan bersolat bagi pesakit. Akan
tetapi kehadiran kami di sana bukanlah untuk mengajar, bahkan tidak
disuruh mengajar pun. Sekadar berbual-bual dengan pesakit, bertanya
khabar sambil memberikan buah tangan iaitu hamper yang berisi
buah-buahan kepada pesakit. Bila mahu beredar barulah risalah yeng
menerangkan tatacara ibadah pesakit diberikan. Cuma risalah untuk
pesakit bukan Islam tak sempat disiapkan.

Saya dan rakan saya
berkesempatan berbual dengan 2 orang pesakit bukan Islam. Alhamdulillah
mereka menerima kehadiran kami dengan baik. Saya berbual-bual dengan
seorang pakcik beragama hindu, dia baru 3-4 hari masuk hospital.
Katanya, anakl-anaknya tak datang ziarah. Hanya kata-kata motivasi
seperti Tuhan akan tinggikan darjat orang dia uji dengan sakit dan
lain-lain yang dapat saya sampaikan disamping berbual-bual dengan dia.

Isu
Dr Asri dan khalwat masih sibuk dibincangkan. Saya tidak mahu mengfokus
kepada isu ini. Cuma saya melihat ada kecenderungan untuk sebahagian
rakan-rakan saya taksub kepada Ust Asri. Sehingga berjela-jela buletin
di friendster ditulis untuk membela Ust Asri dan lain-lain lagi.
Ketaksuban kepada individu ialah satu perkara yang merbahaya. Jangan
pula Ust Asri menjadi seperti Abuya kepada rakan-rakan saya. Sejak bila
kita di ajar untuk menurut membuta tuli kepada Dr Asri. Dan apa perlu
masa dihabiskan untuk membela beliau. Cukuplah dengan perdebatan yang
hina yang wujud di banyak forum yang saya lawati yang penuh dengan
kata-kata keji dan nista yang tak selayaknya diucapkan lebih-lebih lagi
hanay dalam hal yang kecil seperti ini. Bermula dari ketaksuban kepada
Ustaz Asri, maka hujah-hujah untuk mempertahankan beliau mula keluar.
ya jujah-hujah untuk membela pernyataan Ust Asri tentang isu khalwat
mungkin kuat, akan tetapi apa perlu ditulis berulang-ulang kali di
dalam satu website. Membuang masa! Ketaksuban akhirnay dibalas dengan
ketaksuban. Ketaksuban kepada PAS, mufti Perak dan lain-lain diganti
pula dengan ketaksuban kepada mufti Perlis. Musnahlah manhaj sunnah
yang diperjuangkan selama ini. Malang! Malang! sangat malang!
sila lawati weblog ustaz Emran untuk membaca ulasan panjang lebar beliau tentang isu ini.

Wslm wbt

Majlis Ilmu di UIA

Majlis Ilmu Di UIA

Tajuk: Soal Jawab Agama-

Permasalahan bersuci, mimpi basah, mani, mazi, haidh, baca al-Quran ketika haidh, mandi wajib dan lain-lain

Penceramah: Ustaz Arif Nazri

Lokasi: ADM LT2 (bangunan bersebelahan dengan tempat solat wanita di masjid)

Hari: Setiap Isnin

Masa: 915 malam

Terbuka kepada semua. Semua di jemput hadir

amalan bulan zulhijjah

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=2001&bagian=0

Oleh
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan segenap sahabatnya.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”.

Imam Ahmad, Rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid”.

MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARIATKAN

(1). Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah

Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Artinya : Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga”.

(2). Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi :

“Artinya : Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku”.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah Rahimahullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.

(3). Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

“Artinya : …. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. (Al-Hajj : 28).

Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzul Hijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.

“Artinya : Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid”. (Hadits Riwayat Ahmad).

Imam Bukhari Rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu”

“Artinya : Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah”.

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.

“Artinya : Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. (Al-Baqarah : 185).

Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.

Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyariatkan.

(4). Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.

Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya.

Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” (Hadits Muttafaq ‘Alaihi).

(5). Banyak Beramal Shalih.

Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

(6). Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq

Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

(7). Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-hari Tasyriq.

Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. (Muttafaq ‘Alaihi).

(8). Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban.

Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘Anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”.

Dalam riwayat lain :

“Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban”.

Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah.

“Artinya : ….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. (Al-Baqarah : 196).

Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

(9). Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.

Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

(10). Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas.

Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

[Artikel bahasa Arab dapat dilihat di http://www.saaid.net/mktarat/hajj/4.htm Disalin dari brosur yang diterbitkan oleh Al-Sofwa,Tanpa Tahun]

Link2 Menarik

Assalamualaikum WBT

sempena Zulhijjah ini, saya mempunyai beberapa artikel yang boleh dikongsi bersama pembaca-pembaca sekalian.

Larangan Menjadikan Bahagian Kurban Sebagai Upah oleh Mufti Perlis
http://groups.yahoo.com/group/alFikrah/message/19318

HIKMAH IBADAT KORBAN SERTA HUKUMNYA Oleh Mohd Yaakub Mohd Yunus
http://groups.yahoo.com/group/alFikrah/message/19302

Syarat-Syarat Pelaksanaan Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Hafiz Firdaus Abdullah (www.al-firdaus.com)- ini mungkin boleh dibaca sebagai bahan tambahan kepada isu mufti Perlis menentang amalan mengintap pasangan khalwat
http://groups.yahoo.com/group/alFikrah/message/19297

dan ia juga mungkin berkaitan dengan posting saya yang lama ini
http://the-authenthic.blogspot.com/2006/06/gadis-khalwat-di-malukan.html

Majlis Ilmu Di UIA

Majlis Ilmu Di UIA

 

Tajuk: Soal Jawab Agama-

 

Permasalahan bersuci, mimpi basah, mani,
mazi, haidh, baca al-Quran ketika haidh, mandi wajib dan lain-lain

 

Penceramah: Ustaz Arif Nazri

 

Lokasi:

ADM

LT2 (bangunan bersebelahan dengan tempat
solat wanita di masjid)

 

Hari: Setiap Isnin

 

Masa: 915 malam

 

Terbuka kepada semua. Semua di jemput hadir

Jawab Salam Orang Kafir

Assalamualaikum WBT.

 

Dah lama tak update blog. Tak tahu
mungkin UIA dah block agaknya blogger. Bukak weblog orang lain dapat tapi nak
update tak dapat.

 

Alhamdulillah sejak minggu pertama
sem kali ni kuliah Ustaz Arif dah bermula. Kehadiran amat menggalakkan. Nampaknya
semakin ramai budak-budak perempuan yang hadir kat kuliah kali ni. Kuliah Sifat
Solat Rasululah SAW dah tamat. Insya-allah isnin ni mula dengan kitab taharah
pula.

 

Ini ialah maklumat tentang kuliah
tersebut:

 

Topik: Soal jawab agama- Permasalahan bersuci (wudhu, mandi
wajib,haidh, mani,mazi, pegang al-Quran tanpa wudhu; wanita haidh baca al-Quran
etc)

Hari: Setiap Isnin

Masa:

9:15


malam

Tempat:

ADM


LT2 (di bangunan yang bersebelahan dengan tempat solat wanita di masjid)

 

Semua orang dijemput hadir, tak
kira lelaki atau perempuan.

 

Nampak

gaya

sem kali ini, pelajar yang datang kuliah berbagai-bagai. Yang bagusnya
kakak-kakak kita yang pakai seluar ketat dan lain-lain pun turut datang. Moga Allah
bagi hidayah untuk mereka. Cuma saya harap janganlah ada kawan-kawan kita
memandang serong dengan kehadiran mereka. Janganlah waktu kuliah tu pulaklah
ringan mulut kita nak tegur pasal pakaian mereka. Cukup eloklah mereka mahu
dengar tentang agama, moga-moga mereka mendapat hidayah. Lebih elok daripada
mereka tidak mendapat apa-apa ilmu tentang agama hanya kerana berkecil hati
dengan sikap segelintir kita yang bila melihat mereka hadir dalam kuliah agama
dengan pandangan yang sinin. Kalau nak tegur, tegurlah waktu lain. Janganlah sampai
lemah semangat mereka nak belajar agama. Mereka juga ada hak untuk belajar
tentang solat, thaharah dan lain-lain.

 

Terima kasih untuk akak Syahadah
yang berusaha mengajak rakan-rakannya itu untu hadir ke kuliah. Akak Syahadah
beritahu, ada antara kawan-kawannya tanya, nak pakai apa pergi kuliah. Takkan nak
paksa dia pakai baju kurung, jadi kak Syahadah pun kata pakai sahaja pakaian
yang kau nak. Kita tak nak sebab pakaian terus mereka hilang minat. Perlahan-lahan
dan sedikit demi sedikit

cuba

bawa mereka pada agama.

 

Posting sebelum ini saya bercerita
tentang sikap memberi salam hanya kepada yang dikenali sahaja.

Ada

satu lagi sikap buruk iaitu menjawab salam orang bukan Islam dengan nada yang
amat kasar hatta sampai ke tahap mendoakan kecelakaan pula untuk mereka.

 

Di dalam al-Lu’ Lu’ wa al-Marjan
(kitab yang menghimpun hadis-hadis yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dan
Muslim) ada tersenarai beberapa hadis di mana Rasulullah SAW menjawab salam
bukan Islam. Hatta pernah Aisyah RA menjawab salam orang bukan Islam dengan
mendoakan kecelakaan ke atas mereka, lalu Rasulullah SAW pun menegur sikap
Aisyah RA itu.

 

Janganlah kita menjadi manusia yang
kurang ajar. Patutkah salam dijawab dengan doa untuk kecelakaan?

 

عن أنس؛ أن أصحاب النبي صلى
الله عليه وسلم قالوا للنبي صلى الله عليه وسلم إن أهل الكتاب يسلمون علينا. فكيف
نرد عليهم؟ قال "قولوا: وعليكم "

Dari Anas RA, dia berkata, sahabat-sahabat Rasulullah SAW berkata kepada
Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Ahli Kitab memberi salam kepada kami. Maka bagaimana
kami perlu membalasnya?”. Jawab Rasulullah SAW: “Katakanlah:

Wa-

‘Alaikum
(dan ke atas kamu) (Sahih Muslim:2163)

 

عن عائشة. قالت: استأذن رهط
من اليهود على رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالوا: السام عليكم. فقالت عائشة: بل
عليكم السام واللعنة. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم "يا عائشة! إن الله
يحب الرفق في الأمر كله" قالت: ألم تسمع ما قالوا؟ قال "قد قلت:
وعليكم".

Dari ‘Aisyah RA, beliau berkata: Telah meminta izin sekumpulan dari orang
Yahudi kepada Rasulullah SAW dan mereka berkata: “Kecelakaan ke atas kamu.”
Maka jawab ‘Aisyah RA: “Bahkan ke atas kamu kecelakaan dan laknat.” Maka kata
Rasulullah SAW: “Wahai ‘Aisyah RA! Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam
setiap hal.” Jawab ‘Aisyah RA: “Adakah engkau tidak mendengar apa yang mereka
sebutkan?” Jawab Rasulullah SAW: Sesungguhnya aku telah menjawab: : “Wa –‘Alaikum
(dan ke atas kamu). (Sahih Muslim:2165)

 

Akan tetapi haram untuk kita memulakan salam kepada bukan Islam, kita hanya
menjawab apabila mereka memberi salam kepada kita.

 

Di sini saya akan berikan beberapa link yang berkaitan dengan isu ini

 

What
should we say when greeting by a non-Muslim with: As salaamu ‘alaykum?
Oleh
Sheikh Shalih al-Utsaimin.

 

 

Is
it permissible for a Muslim to great a non-Muslim first?.
Oleh Sheikh Salih
al-Munajid

 

Wallahu’alam wslm wbt

Memberi Salam Kepada yang diKenali sahaja

Mengucapkan Salam Hanya Kepada
Yang Dikenal Saja

 

Dan diantara telah dekatnya hari
kiamat lagi ialah akan adanya orang-orang yang hanya mahu mengucapkan salam kepada
orang yang dikenali sahaja.

 

Dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam
bersabda.

 

"Ertinya : Sesungguhnya di
antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah manusia tidak mahu
mengucapkan salam kepada orang lain kecuali yang dikenalinya saja"
. (Hadits Riwayat Ahmad. Musnad
Ahmad 5:326. Ahmad Syakir berkata ‘Isnadnya Shahih’)

 

Dalam riwayat lain bagi Imam Ahmad
dengan lafaz.

 

"Ertinya : Sesungguhnya
sebelum datangnya hari kiamat pengucapan salam itu hanya untuk orang-orang
tertentu saja (Yakni yang dikenalinya)"
. (Musnad Ahmad 5:333. Ahmad Syakir berkata,
‘Isnadnya Shahih’. Al-Albani berkata : ‘Ini adalah isnad yang shahih menurut
syarat Muslim’
. Silsilatul Ahaditsish Shahih 2:251. hadits nombor 647)

 

Keadaan seperti ini dapat kita
saksikan pada masa sekarang ini, maka banyak orang yang hanya mau mengucapkan
salam kepada orang-orang yang dikenalinya sahaja. Perilaku seperti ini
bertentangan dengan sunnah, kerana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menganjurkan menyebarkan salam kepada orang yang kita kenal mahuupun yang tidak
kenal. Hal inilah yang menjadi penyebab tersebarnya rasa kasih sayang dan
saling mencintai di antara sesama kaum muslimin. Juga mampu jadi pemupuk
keimanan yang menjadi faktor menentukan untuk dapat masuk syurga, sebagaimana
yang diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu,
katanya dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

 

"Ertinya : Tidaklah kamu akan
masuk syurga sehingga kamu beriman, dan tidaklah kamu beriman sehingga kamu
saling mencintai. Tidaklah kamu mau kutunjukkan kepada sesuatu yang apabila
kamu lakukan kamu akan saling mencintai .? Iaitu sebarkanlah salam di antara
kamu"
.
(Hadits Riwayat Muslim. Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Bayan Annahu Laa
Yadkhulu Al-Jannata illa Al-Mu’minuun 2:35)

http://assunnah.or.id