Seruan Imam 4 mazhab Untuk berpegang dengan al-Quran dan as-Sunnah
Sangatlah bermanfaat bagi kita untuk membaca perkataan para Imam madzhab
yang empat (Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’,i dan Madzhab
Hambali), Agar kita selalu mengikuti Sunnah dan meninggalkan perkataan serta
pendapat-pendapat yang menyelisihi Sunnah walaupun bersumber daripada mereka
sendiri (Para Imam Madzhab). Hal ini merupakan bantahan terhadap orang-orang
yang jauh dari ilmu agama dan selalu taqlid buta (mengikut tanpa melihat hujah),
dimana mereka sering berkata " Kalau bukan pendapat Imam Syafi’i, maka aku
akan menolaknya" atau "Aku hanya akan mau memakai pendapat Imam
Hambali, yang selainnya aku enggan."
Sedangkan Imam Syafi’i dan Imam Hambali juga Imam-imam yang lain, tidak pernah
sekalipun mengajarkan kepada para pengikut-pengikutnya, untuk fanatik buta
kepada mereka. Semoga dengan mendengar perkataan-perkataan daripada mereka,
kita akan semakin Istiqamah dalam menegakkan Sunnah dan meninggalkan pendapat
yang menyelisihinya .
Berikut adalah perkataan para Imam-imam tersebut , semoga Allah merahmati
mereka :
a) ABU HANIFAH (Imam Madzhab Hanafi)
1. “Apabila hadits itu shahih, maka hadits itu
adalah madzhabku.” (Ibnu Abidin di dalam Al-Hasyiyah 1/63)
2. “Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang kepada perkataan kami,
selagi dia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya”. (Ibnu Abdil Barr di
dalam Al-Intiqa’u fi Fadha ‘ilits Tsalatsatil A’immatil Fuqaha’i, hal. 145)
3. Di dalam sebuah riwayat dikatakan: “Adalah haram bagi orang yang tidak
mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku”.
4. Di dalam sebuah riwayat ditambahkan: “Sesungguhnya kami adalah manusia yang
mengatakan perkataan pada hari ini dan menariknya balik di esok hari”.
5. “Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah
dan khabar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah
perkataanku”. (Al-Fulani di dalam Al-lqazh, hal. 50)
a) MALIK BIN ANAS (Imam Madzhab Maliki)
Imam Malik berkata:
1. “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia
yang salah dan benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang
sesuai dengan Kitab dan Sunnah, ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan Al
Kitab dan Sunnah, tinggalkanlah”. (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami’, 2/32)
2 “Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali
dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam”. (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227)
3. Ibnu Wahab berkata, “Aku mendengar bahawa Imam Malik ditanya tentang
menyelang-nyelangi jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, “Tidak ada hal itu
pada manusia”. Dia berkata, “Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurangan,
kemudian aku berkata kepadanya. Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu,
maka dia berkata: “Apakah itu”? “Aku berkata: Al Laits bin Saad dan Ibnu
Lahi’ah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al ¬Ma’afiri dari Abi
Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan
hadist kepada kami, dia berkata, ”Aku melihat Rasulullah Shallallahu
AlaihinWaSallam menunjukkan kepadaku dengan kelingkingnya apa yang ada diantara
jari-jari kedua kakinya”. Maka dia berkata, “sesungguhnya hadist ini adalah
Hasan, aku tidak pernah mendengarnya sama sekali kecuali kali ini. Kemudia di
hari lain, saya mendengar beliau ditanya tentang hal yang sama lalu beliau
menyuruh orang itu untuk menyela-nyela jari kakinya.
(Mukaddimah Al-Jarhu wat Ta’dil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)
c)
ASY
-SYAFI’I (Imam Madzhab Syafi’i)
Adapun perkataan-perkataan yang diambil dari Imam Syafi’i di dalam hal ini
lebih banyak dan lebih baik, dan para pengikutnya pun lebih banyak
mengamalkannya. Di antaranya:
1. “Tidak ada seorangpun, kecuali dia wajib
bermadzab dengan Sunnah Rasulullah dan mengikutinya. Apapun pendapat yang aku katakan
atau sesuatu yang aku katakan itu berasal daripada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam tetapi bertentangan dengan ucapanku. Maka peganglah sabda
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Inilah ucapanku.” (Tarikhu Damsyiq
karya Ibnu Asakir,
15/1/3
)
2. “Kaum muslimin telah sepakat baahwa barang siapa yang telah terang baginya
Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk
meninggalkannya, hanya kerana mengikut perkataan seseorang.”
(Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal.68)
3. “Apabila kamu mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan
Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berkatalah dengan sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku
katakan.” (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1)
4. “Apabila Hadist itu Shahih, maka ia adalah madzhabku.” (An-Nawawi di dalam
AI-Majmu’, Asy-Sya’rani,10/57)
5. “Kamu (Imam Ahmad) lebih tahu dari padaku tentang hadist , dan orang-orangnya
(Rijalull-Hadits). Apabila hadist itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku biar
dari manapun orangnya, baik dia dari Kufah, Bashrah mahupun dari Syam, sehingga
apabila ia shahih, aku akan bermadzhab dengannya.” ( Al-Khathib di dalam
Al-Ihtijaj bisy-Syafi’I, 8/1)
6. “Setiap masalah yang didalamnya terdapat khabar daripada Rasulullah Shalallahu
alaihi wa sallam yang shahih …..dan bertentangan dengan apa yang aku katakan,
maka aku menariknya balik di dalam hidupku dan setelah aku mati.” (Al-Harawi,
47/1)
7. “Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadist Nabi
yang bertentangan dengannya shahih,ketahuilah bahawa itu bererti pendapatku
tidak berguna lagi).” (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash Al-Mu’addab)
8. “Setiap apa yang aku katakan bila
bertentangan dengan riwayat yang shahih dari Nabi SAW, maka hadith nabi saw
lebih utama dan janganlah kalian bertaqlid kepadaku” (ibnu Asakir,
15/9/2
)
9. “Setiap
hadith yang datang dari nabi saw, bererti itulah pendapatku sekalipun kalian
tidak mendengarnya sendiri daripada aku”. (Al-Filani dan Ibn Qayyim di dalam
al-I’lam)
AHMAD BIN HAMBAL (Imam Madzhab Hambali) ‘
Imam Ahmad adalah salah seorang imam yang paling banyak mengumpulkan sunnah dan
paling berpegang teguh kepadanya. Sehingga dia membenci penulisan buku-buku
yang memuat cabang-cabang (furu’ ) dan pendapat. Oleh kerana itu dia berkata:
1. “Janganlah engkau mengikuti aku dan jangan pula
engkau mengikuti Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, tetapi ambillah dari mana
mereka mengambil.” (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-I’lam, 2/302)
2. “Pendapat Auza’i, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah
pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan alasan hanyalah terdapat di
dalam atsar-atsar (hadits-hadits. Red.)” (Ibnul Abdl Brr di dalam Al-Jami`,
2/149)
3. “Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
maka sesungguhnya dia telah berada di tepi kehancuran.” (Ibnul Jauzi, 182).
Allah berfirman: "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak
beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka
perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di dalam hati mereka sesuatu keberatan
terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya" (An-Nisa:65), dan
firman-Nya: "Maka hendaklah
orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cubaan atau ditimpa
adzab yang pedih. " (An-Nur:63).
(Di sadur dari Mukaddimah Kitab Shifatu Shalatiin Nabii shallallahu ‘alaihi wa
sallam, karya Al-Imam Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin AI-Albani rahimahullah
dengan sedikit perubahan oleh Tim Redaksi)
http://www.darussalaf.org/index.php?name=News&file=article&sid=246